Selasa, 20 Desember 2011

KATEGORI BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Bahan kimia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Beracun (Poison)
2.      Karsinogenik
3.      Flammable (mudah terbakar)
4.      Radioaktif
5.      Explosive (mudah meledak)
6.      Korosif (Corrosive)
7.      Lain-lain

1. Beracun (Poison)

Semua bahan kimia bersifat racun, mempunyai akibat yang berbeda-beda, bergantung pada derajat toksisitas dan dosis ketika terkena pada tubuh.  Ada bahan yang relatif tidak toksis, yaitu yang jarang menyebabkan kecelakaan dalam penggunaan sehari-hari, ada yang toksisitasnya ringan, yaitu bahan yang dengan konsentrasi maksimum akan berbahaya meski waktu  penggunaannya singkat  Tetapi ada pula yang sangat toksik, yaitu bahan yang tidak boleh terhirup walaupun sebentar.
Yang termasuk bahan kimia beracun antara lain asam-kuat, basa/alkali, senyawa sianida, gas karbonmonoksida dan pelarut-pelarut organik. Tabel 1 menunjukkan toksisitas relatif dari berbagai pelarut.
Sianida merupakan salah satu bahan kimia toksis yang sangat beracun, dimana sejumlah kecil (50 – 150 mg) dari zat di atas dapat menyebabkan kematian. Yang tercakup dalam senyawa sianida adalah hidrogen sianida, sianogen bromida, sianogen khlorida, Lactonitrile dan sianida yang larut dalam air. Keracunan bisa disebabkan dari terhirupnya gas HCN yang timbul sebagai hasil reaksi sianida dengan asam dan dengan air.  Sianida jangan diekspose dengan asam-asam.

2. Karsinogenik

Bahan karsinogenik (contoh formalin) dapat mengakibatkan tumor/kanker pada seseorang. Risiko untuk timbulnya tumor secara umum tergantung pada lama dan kerapnya pemakaian bahan tersebut serta konsentrasi yang digunakan. Mengingat bahaya bahan tersebut, maka sebaiknya disediakan sesuai dengan kebutuhan, JANGAN MENIMBUN!!!
Semua orang yang menggunakan bahan karsinogenik harus faham risiko dan tahu cara untuk menghindarkan risiko tersebut.  Alat pelindung (baju, sarung tangan, dll) harus digunakan untuk menghindari kontak dengan kulit, mulut atau paru.  Semua wadah bahan karsinogenik harus diberi label “Karsinogenik” yang jelas.  Wadah/alat yang telah kosong setelah selesai dipakai, harus dicuci dengan air dingin. Percobaan harus dirancang sedemikian rupa hingga akan dihasilkan sampah bersifat karsinogen yang paling minimum.
Penyimpanan bahan karsinogenik harus aman betul, baik terhadap risiko terpapar apalagi bila bahan tersebut dapat menguap, harus disimpan dalam dua wadah berlapis (wadah pertama dimasukkan dalam wadah kedua). 
Semua wadah harus berlabel jelas dan disimpan dalam lemari yang aman dan mempunyai ventilasi.

3.  Flammable           

Bahan bahan yang mudah terbakar antara lain pelarut organik seperti alkohol, eter, khloroform, benzen, petroleum dsb.  Bahan yang mudah terbakar sebagian besar berbentuk cairan.
Cairan yang mudah terbakar tidak boleh dituang dekat api dan tidak boleh dipanaskan diatas api, kecuali untuk tujuan test spesifik.  Botol-botol yang berisi cairan yang mudah terbakar harus ditempatkan dalam wadah yang kapasitasnya lebih besar dari botol tersebut sehingga jika botol pecah isinya tertampung dengan aman.
Memanaskan cairan yang mudah terbakar harus memakai peralatan listrik, seperti hot plates, water baths, heating mantles, dan lain-lain yang telah dijamin tahan api.  Jangan tempatkan botol yang berisi cairan mudah terbakar dan mudah menguap (seperti  gasoline) pada sinar matahari langsung.
Bahaya kebakaran dapat berakibat lebih hebat, contohnya dietil- dan isopropil- eter bila terkena udara dan sinar matahari dapat membentuk peroksida yang tidak stabil sehingga dapat meledak pada keadaan kering.  Eter harus disimpan dalam botol berwarna coklat dan terhindar dari pengaruh cahaya.
Karbon disulfida merupakan cairan yang mudah terbakar. Hasil pembakaran tersebut adalah belerang dioksida yang beracun.
Cairan lain yang gasnya sangat mudah terbakar adalah : metanol (metil alkohol), etanol, petroleum (ligroin, kerosen, paraffin), aseton, toluen, xilen, pelarut nafta, ‘white spirit’ dan ester-ester yang dipanaskan.
Hidrogen peroksida juga merupakan cairan yang secara spontan terdekomposisi menghasilkan oksigen yang mudah terbakar. Ini terjadi, bila konsentrasi H2O2 diatas 65% w/w dan kontak dengan bahan organik seperti kayu, kotoran, kain dan lain-lain. Ketika menggunakan larutan hydrogen peroksida dengan konsentrasi  > 30% w/w harus memakai sarung tangan PVC dan kacamata pelindung. Air bersih harus tersedia untuk mengencerkan peroksida apabila terjadi masalah.
Lithium, Natrium dan Kalium adalah logam yang berbahaya karena memiliki sifat reaksi eksothermis dengan resiko mudah terbakar. Jika menggunakan bahan ini, semua bahan yang mudah terbakar haruslah dijauhkan dari sumber api.
Adanya gumpalan yang terbentuk dalam larutan, haruslah dipecahkan dengan hati-hati. Eksperimen yang menggunakan bahan tersebut harus dilakukan didalam ruang asam (fume cupboard). Sebaiknya disediakan pemadam kebakaran yang berbentuk bubuk kering (dry powder).
Lithium dapat menyala secara spontan bila dalam keadaan kering, oleh karena itu harus dijaga dengan cara menyimpannya dalam paraffin, light petroleum (titik didih 60-80oC) atau minyak nabati.
Tertiary butyl lithium mudah terbakar secara spontan dan harus ditangani dengan menggunakan nitrogen.  Reaksinya  eksothermis dan berisiko tinggi untuk terbakar, oleh karena itu singkirkan semua larutan yang mudah terbakar kecuali yang hendak digunakan dan siapkan pemadam kebakaran berupa bubuk kering (dry powder).
Pereaksi 2-methyl-2-propanol yang digunakan pada senyawa organolitium, harus tetap berada dalam bentuk cairan, jangan sampai menjadi padat.

4.  Radioaktif

Radioaktif merupakan bahan kimia yang dengan sendirinya dapat menghasilkan radiasi yang berbahaya terhadap tubuh.  Dalam jumlah kecil bahan radioaktif sudah sangat berbahaya, oleh karena itu bila bekerja menggunakan bahan radioaktif harus betul-betul yakin bahwa bahan tersebut tidak masuk ke tubuh lewat kulit, hidung atau mulut.  Kenakan sarung tangan karet, dan sebelum meninggalkan laboratorium tangan harus dicuci bersih dan kemudian dimonitor.
Bahan radioaktif harus ditangani sedemikian rupa sehingga tidak ada bahaya kontaminasi di laboratorium.  Laboratorium yang menggunakan bahan radioaktif, harus dilengkapi dengan monitor portable untuk mendeteksi sifat radioaktif dan dengan portable dose-rate meter untuk mengukur dosis yang diterima oleh individu. Bahan radioaktif tidak boleh dibuang langsung ke bak pencuci atau saluran air tanpa izin khusus.

5.  Explosive

Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan timbulnya ledakan ketika bereaksi dengan bahan lainnya.  Sebagai contoh asam perklorat dapat bereaksi dengan bahan organik atau inorganik yang mudah teroksidasi sehingga menghasilkan ledakan.
Larutan mengandung alkohol, gliserol atau bahan-bahan lain yang membentuk ester, tidak boleh dipanaskan dengan asam perklorat atau campuran perklorat, sebab ester dari asam perklorat merupakan bahan peledak. Asam perklorat tidak boleh dibiarkan kontak dengan rak atau meja kayu dan wadahnya harus terbuat dari gelas atau porselin. Pada semua pekerjaan yang melibatkan asam perklorat harus digunakan sarung tangan karet, kacamata pelindung dan safety screen.

6. Korosif (Corrosive)

Asam-asam kuat seperti asam sulfat pekat, asam khlorida pekat, dll umumnya bersifat korosif. Bahan kimia lain yang bersifat korosif seperti hidrogen fluoride (HF) dapat merusak material lain seperti kaca,beton,logam dan bahan organik.  Ketika bekerja dengan HF harus digunakan perlengkapan keselamatan kerja yang sesuai seperti kacamata pengaman, pelindung muka, jas lab dan sarung tangan.  Bersihkan tangan (meskipun telah memakai gloves) secara reguler walaupun hanya menggunakan HF yang konsentrasi rendah.

7. Lain-lain

Selain bahan-bahan kimia diatas, adapula bahan kimia yang menyebabkan iritasi baik pada kulit, mata maupun paru-paru. Diantaranya adalah asap/uap dari asam-asam seperti asam klorida, asam fluorida dan asam nitrat.  Selain itu belerang klorida, brom, difenilkhloro dan sianoarsin (dipakai untuk gas perang), dan zat-zat yang berada dalam bentuk gas seperti gas khlor, belerang dioksida, fosgen dan nitrogen peroksida.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar