Rabu, 04 Januari 2012

Kereaktifan Logam Natrium


LOGAM ALKALI

                                                         Logam alkali merupakan logam yang sangat reaktif. Dalam sistem periodik, unsur - unsur alkali terdapat pada golongan IA, yang anggotanya terdiri atas litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), rubidium (Rb), sesium (Sc) dan fransium (Fr). Alkali berarti pembentuk basa. Logam Li, Na dan K berwarna putih mengkilat, sedangkan Cs berwarna kuning keemasan. Semua logam alkali merupakan logam lunak (mudah diiris dengan pisau) dan mempunyai daya hantar listrik dan panas yang baik.
©             Keberadaannya di Alam
       Di alam, logam alkali terdapat dalam keadaan sebagai senyawa dengan bilangan oksidasi +1, karena kereaktifannya. Selain di air laut sebagai NaCl dan KCl, natrium dan kalium terdapat melimpah di litosfir (2,6% dan 2,4%), terutama sebagai NaCl dan karnalit (KCl.MgCl2.6H2O). Logam Li, Br dan Cs terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit sebagai senyawa klorida dan oksida dalam batuan lepidolite dan poluccite. Unsur Fr merupakan radioaktif dengan waktu paro yang sangat pendek.
       Ion Na+ dan K+ terdapat di dalam cairan tubuh sebagai zat elektrolit yang sangat penting dalam proses metabolism sel.

©             Sifat - Sifat Logam Alkali

Ø  Sifat Umum
Logam alkali merupakan logam reaktif, hal ini didukung oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
1.  Konfigurasi elektron valensi logam alkali adalah ns1. Dengan demikian, apabila melepaskan sebuah elektron membentuk ion +1, akan dapat konfigurasi elektron yang stabil (seperti gas mulia).
2.  Energi ionisasinya yang relatif rendah mengakibatkan logam alkali akan sangat mudah melepaskan elektron valensinya untuk membentuk ion +1.
3.   Potensial elektrodenya yang rendah menunjukkan bahwa logam alkali merupakan reduktor yang sangat kuat.
Secara umum, sifat - sifat dari logam alkali tertera pada tabel berikut.

Tabel. Sifat - Sifat Umum Logam Alkali
Sifat - Sifat Umum
Li
Na
K
Rb
Cs
Nomor atom
Konfigurasi elektron
Titik leleh (K)
Titik didih (K)
Jari - jari atom (A)
Energi ionisasi I (kJ mol-1)
Energi ionisasi (kJ mol-1)
Elektronegativitas
Potensial elektrode (volt)
M+(aq) + e  M
Massa jenis (g mL-1)
3
1s2 s21
454
1609
1,34
0,60
520
0,98

-3,04
0.63
11
[He] 3s1
371
1154
1,54
0,95
495
0,93

-2,71
0,97
19
[Ne] 4s1
337
1039
3,2
1,33
418
0,82

-2,93
0,86
37
[Ar] 5s1
312
967
4,2
1,48
403
0,82

-2,99
1,53
55
[Kr] 6s1
302
952
3,9
1,69
374
0,79

-3,02
1,95

Dari tabel tersebut, terlihat adanya kecenderungan perubahan sifat, antara lain :
1.    Titik leleh dan titik didihnya yang relatif rendah, dari Li ke Cs semakin rendah.
2.   Energi ionisasi yang rendah, dari Li ke Cs menunjukkan perubahan yang semakin kecil, hal ini berkaitan dengan semakin besarnya jari - jari atom.
3. Perbedaan energi ionisasi pertama dan kedua yang sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa logam alkali stabil dalam keadaan sebagai senyawa dengan bilangan oksidasi +1.
4.   Potensial elektrode yang sangat negatif dari unsur alkali menunjukkan bahwa unsur - unsur alkali merupakan reduktor kuat.
5.    Logam alkali merupakan logam yang ringan, dari massa jenisnya terlihat bahwa Li, Na, dan K akan terapung di permukaan air.

Ø  Sifat Kimia

Kereaktifan logam alkali ditunjukkan oleh reaksi - reaksinya dengan beberapa unsur non logam. Dengan gas hidrogen dapat bereaksi membentuk hidrida yang berikatan ion, dalam hal ini bilangan oksidasi hydrogen adalah -1 dan bilangan oksidasi alkali +1. Dengan oksigen dapat membentuk oksida, dan bahkan beberapa di antaranya dapat membentuk peroksida dan superoksida. Litium bahkan dapat bereaksi dengan gas nitrogen pada suhu kamar membentuk litium nitrida (Li3N). Semua senyawa logam alkali merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, dengan raksa membentuk amalgam yang sangat reaktif sebagai reduktor. Beberapa reaksi logam alkali dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel. Beberapa Reaksi Logam Alkali
                      Reaksi Umum                                            Keterangan
4M(s) + O2(g) ->2M2O(s)
2M(s) + O2(g) ->M2O2(s)


2M(s) + X2(g) ->2MX(s)
2M(s) + S(g) ->M2S(s)
2M(s) + 2H2O(g) ->2MOH(aq) + H2(g)
2M(s) + H2(g) ->2MNH2(s) + H2(g)
6M(s) + N2(g) -> 2M3N(s)
2M(s) + H2(g) -> 2M3N(s)
2M(s) + H+(aq) -> 2M+(aq) + H2(g)
 jumlah oksigen terbatas
dipanaskan di udara dengan oksigen berlebihan. Logam K dapat membentuk superoksida (KO2).
X adalah F, Cl, Br, I

reaksi dahsyat, kecuali Li
dengan katalisator
hanya Li yang dapat bereaksi
gas H2 kering (bebas air)
reaksi dengan asam (H+) dahsyat

Logam alkali dapat larut dalam ammonia pekat (NH3), diperkirakan membentuk senyawa amida.
Na(s) + NH3(l) ->NaNH2(s) + ½ H2(g)
Reaksinya dengan air merupakan reaksi eksoterm dan menghasilkan gas hidrogen yang mudah terbakar. Oleh karena itu, bila logam alkali dimasukkan ke dalam air akan terjadi nyala api di atas permukaan air.
Dalam amonia yang sangat murni akan membentuk larutan berwarna biru, dan merupakan sumber elektron yang tersolvasi (larutan elektron).
Logam - logam alkali memberikan warna nyala yang khas, misalnya Li (merah), Na (kuning), K (ungu), Rb (merah), dan Cs (biru/ungu). Warna khas dari logam alkali dapat digunakan untuk identifikasi awal adanya unsur alkali dalam suatu bahan.

Natrium (Na)

Kereaktifan Logam Natrium

Semua logam alkali (golongan IA) mulai dari Li, Na, K, Rb, sampai Cs (Fr radioaktif) dijumpai di alam selalu sebagai senyawa baik sebagai garam sederhana seperti NaCl atau mineral komposit seperti kriolit, Na3AlF6. Hal ini membuktikan bahwa logam - logam alkali sangat reaktif, sehingga akan lebih stabil kalau berada sebagai       kation +1.
Karena kereaktifannya, logam Natrium misalnya harus disimpan dalam paraffin. Penyimpanan ini dilakukan untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi kontak logam Natrium dengan udara. Bila dibiarkan dengan udara, Natrium dapat bereaksi adengan uap air, oksigen atau CO2 yang terdapat dalam udara dan reaksi dapat disertai dengan terjadinya nyala atau ledakan. (hati –hati : reaksi logam Natrium dengan air dapat menimbulkan ledakan bila reaksi berlangsung terlalu cepat). Meskipun disimpan dalam paraffin, logam Natrium masih bereaksi secara perlahan dengan Oksigen yang terlihat dari terbentuknya lapisan putih yang menutupi logam Natrium yang seharusnya berwarna perak mengkilap. Warna logam Natrium yang baru saja dipotong dengan pisau akan berubah dari mengkilap dan menjadi abu - abu dan selanjutnya akan membentuk lapisan putih karena bereaksi dengan CO2 membentuk lapisan karbonat. Lapisan karbonat ini akan melindungi logam Natrium bagian dalam sehingga tidak terjadi reaksi lebih lanjut dan dengan demikian logam Natrium aman disimpan dalam waktu yang relatif lama.
Logam Natrium dapat bereaksi secara langsung dengan berbagai unsur seperti unsur halogen membentuk garam halida yang larut dalam air. Reaksi ini menunjukkan bahwa logam Natrium adalah reduktor yang kuat. Sifat yang sama juga akan ditunjukkan bila logam Natrium bereaksi dengan air. Reaksi akan terjadi secara spontan dan molekul air akan direduksi sehingga menghasilkan gas Hidrogen disertai dengan pembentukan basa. Terbentuknya gas Hidrogen dapat diamati dari terbentuknya gelembung gas atau asap putih yang keluar dari wadah tempat reaksi karena reaksi ini disertai dengan pelepasan kalor yang menyebabkan sebagian air mengalami penguapan. Hasil samping dari reaksi logam Natrium dengan air adalah Natrium Hidroksida. Terbentuknya Natrium Hidroksida dapat dideteksi dengan menggunakan indikator asam basa yang umum. Misalnya phenolphthalein (pp) yang akan mengalami perubahan dari tidak berwarna menjadi merah. Warna merah yang terbentuk akan menghilang bila kontsentrasi basa terlalu tinggi.



5 komentar: